Minggu, 31 Maret 2019

Yuk, Ciptakan Ruang Publik yang Bebas Intervensi



Apakah maraknya portal berita online saat ini, sudah memberikan ruang publik untukmu? Kalau kata Pakdhe Habermas, ruang publik atau bahasa kerennya public sphere adalah ruang terjadinya berbagai diskusi dan debat publik mengenai suatu permasalahan publik, di mana setiap individu sebagai bagian dari publik mempunyai porsi sama dalam menyampaikan pendapat dan akan dijamin kebebasannya dari pihak lain sehingga tidak akan muncul opini namun akan memunculkan kebijakan publik yang adil. Indonesia adalah negara demokratis, artinya Indonesia menganut sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sebagai upaya untuk mewujudkan hal tersebut, maka Indonesia memerlukan ruang publik yang mudah diakses publik dan ada jaminan kebebasan mengungkapkan pendapat di dalamnya. Syarat yang harus dipenuhi ruang publik diantaranya, (a)rapat harus bersifat publik, (b)warga negara mencerminkan dan memutuskan secara kolektif daripada individu (c)semua warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk berartisipasi (d)keputusan menghidupkan argumen, bukan pada kekuatan paksaan (e)warga negara mendapat informasi sepenuhnya (f) semua alternatif dipertimbangkan (g)musyawarah adalah proses berkelanjutan yang didukung oleh institusi (h)argumen didasarkan pada prinsip-prinsip umum dan menarik untuk kebaikan bersama, tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri.
Nah, salah satu fungsi dari jurnalisme dalam masyarakat demokratis adalah memunculkan diskusi publik dan pembentukan opini publik. Sehingga tidak seharusnya jika media menggiring pemikiran masyarakat untuk memenuhi keinginan individu tertentu. Saat ini, pemilihan wakil rakyat baik dari tingkat desa sekalipun hingga tingkat pusat masih menganut teori elit yang memahami demokrasi sebagai mekanisme untuk memilih pemimpin politik dalam persaingan antar partai melalui pemungutan suara, dan hanya menjadikan warga negara sebagai konsumen tata kelola saja. Ibarat mengerjakan ujian, masyarakat hanya disediakan soal pilihan ganda, yang harus memilih salah satu jawaban yang telah disediakan tanpa boleh mengajukan pendapat jawaban lain yang menurutnya lebih tepat atau memberikan pendapat mengapa dia memilih jawaban tersebut.
Akhirnya Pakdhe Habermas usul lagi nih, dia kurang setuju dengan berlakunya teori etis di kalangan masyarakat demokratis, seharusnya dalam pemilihan wakil rakyat perlu melalui proses diskusi publik yang rasional, di mana rakyat berhak mengetahui siapa saja yang siap menjadi wakilnya dalam pemerintahan dan menyatakan pendapatnya mengenai siapa wakil yang dapat mewakili dirinya di pemerintahan kelak. Melalui forum tersebut, masyarakat tahu mengapa si A memilih X, si B memilih Y, yang akan menggiring pemikiran individu untuk dapat menghargai keputusan bersama secara legowo. Model ini  disebut sebagai model demokrasi deliberatif, yang mementingkan aspek musyawarah untuk mufakat yang bisa dimunculkan dalam keadaan apapun (formal maupun non formal). Di sini, publik tidak hanya diartikan sebagai konsumen tata kelola saja melainkan sebagai realitas sosial yang ada dalam  proses interaksi rasional, karena legitimitas tidak hanya terletak pada banyaknya suara melainkan cara pengambilan keputusan tersebut, jadi diperlukan diskursus yang terus menerus.
Seiring dengan berkembangnya teknologi, media informasi berusaha memunculkan ruang publik melalui sistem online, bahkan beberapa media konvensional terpaksa gulung tikar dan beralih ke media digital untuk tetap bisa eksis di kalangan masyarakat, namun ada juga media yang benar-benar baru, saat ada trend media digital. Jika dilihat dari ketersediaan ruang publik, media konvensional kurang memenuhi akan hal tersebut, mengingat feedback yang diberikan pembaca bersifat tertunda dan tidak memungkikan adanya rubrik diskusi langsung di media konvensional, berbeda dengan media digital, di sini masyarakat langsung bisa menanggapi informasi yang diunggah atau bisa saja mengklarifikasi kebenaran informasi tersebut yang selanjutnya bisa memberi ruang diskusi antarpembaca.
Namun, ruang publik yang disediakan belum memiliki pelindung kebebasan berpendapat, kenyataannya masih ada kejadian saling membully antar komentator. Hal tersebut menyebabkan pemilik suara minoritas ditekan oleh suara mayoritas, dan berujung pada ketakutan menyatakan pendapat oleh kaum minoritas, padahal belum tentu pendapat mayoritas adalah yang terbaik. Bentuk lainnya yaitu pada acara di televisi, dalam acara Mata Najwa dan Indonesia Lawyer Club (ILC), kedua sama-sama membuka ruang diskusi mengenai masalah publik yang sedang terjadi, namun apa kamu sadar perbedaan diantara keduanya? Jika dilihat dari narasumber, Mata Najwa mencoba mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tampil memberikan tanggapannya dan memberikan porsi lebih lama bagi narasumber yang memang bersentuhan langsung atau mengalami masalah yang sedang dibahas, sedangkan komposisi narasumber di ILC didominasi oleh kaum elit yang tidak bersinggungan langsung dengan masalah yang terjadi, masyarakat yang terlibat dalam permasalahan hanya dijadikan sebagai pelengkap saja, hal tersebut dibuktikan dengan pemberian waktu yang singkat dari lama jam tayang
Beralih lagi ke media digital, kini mulai banyak dikembangkan jurnalisme warga atau bahasa kerennya citizen journalism, jurnalisme warga adalah aktivitas jurnalistik yang dilakukan oleh warga biasa (bukan wartawan), di mana warga berperan aktif dalam pengumpulan, pelaporan, analisis dan penyebarluasan informasi. Kemudahan akses ke media, memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk turut serta menjadi produser pesan, tidak lagi hanya sebagai penikmat saja. Namun perlu digaris bawahi bahwa dengan adanya kemudahan ini, harus ada pengawasan dari pers sehingga kebebasan menyampaikan informasi ini tidak dijadikan kebebasan yang tak bertanggung jawab dan dijadikan alat penyebar hoax dan propaganda kepada masyarakat lainnya.
Sebelum menjadi pengawas dari jurnalisme warga, setidaknya pers harus mampu memberikan contoh bagaimana pemberitaan yang memenuhi standar. Salah satu contohnya yaitu tidak memberatkan salah satu pihak yang terlibat dalam suatu masalah, jika media memberitakan sebuah masalah dengan condong ke salah satu pihak, secara tidak langsung akan mengajak publik untuk mengikuti apa yang media beritakan, seharusnya media hanya memberikan pengertian dan detail masalah yang sedang terjadi tanpa menambahkan bumbu-bumbu yang bisa memengaruhi pemikiran dari pembaca.
Begitu juga untuk pembaca, sebelum menyebarkan berita, harusnya dipastikan dulu sumbernya dan cari sebanyak mungkin pemberitaan yang sama dari media yang berbeda untuk memastikan masalah sebenarnya. Sebarkan apa yang sebenarnya terjadi tanpa memihak ke siapapun dan berusahalah membuka ruang publik yang bersih dari intervensi pihak mana pun serta tidak menjatuhkan suara minoritas. Budayakan kembali kehangatan musyawarah untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara yang demokratis.

                                                                                                            Best Regard
                                                                                                                        Dessy N




Referensi:
1. FN, Kiki. (2018). Teori "Public Sphere" Habermas dalam Komunikasi Internasional dalam https://medium.com/@fitriakiki011/teori-public-sphere-habermas-dalam-komunikasi-internasional-4433d3e1199c 
2. The Handbook of Global Online Journalism

Sabtu, 16 Maret 2019

Konvergensi Media, Satu Benda Multiguna

                                                           Sumber: https://goo.gl/images/R3ovjg
Kata Mr. McLuhan, perkembangan teknologi dari masa ke masa akan memberikan pengaruh besar bagi masyarakat, dan memang sudah terbukti, kita sebagai bagian dari masyarakat akan terus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, biar nggak disebut ketinggalan zaman. Contoh kecilnya smartphone, sekarang benda itu sudah bukan menjadi kebutuhan tersier lagi, melainkan berubah menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang. Karena selain berfungsi untuk komunikasi, handphone masa kini juga bisa melakukan banyak fungsi. Misalnya, dulu kalau kita mau cari informasi harus baca koran atau nonton tv, mau dengerin musik harus muter radio, mau kirim surat harus ke kantor pos, mau belanja harus ke pasar, dan masih banyak aktivitas lain yang harus dilakukan satu persatu, tapi sekarang dengan adanya smartphone, semua bisa kita lakukan dalam sekali waktu dan cuma bermodal smartphone sama paket internet.
            Penjelasan di atas menunjukkan, kalau saat ini kita sedang merasakan adanya konvergensi media, apasih konvergensi media itu? Menurut Mr. Flow konvergensi media terdiri dari tiga poin penting, diantaranya computing&information technology, communication network, dan digital content yang berdampak pada terjadinya perubahan media informasi, perubahan cara melakukan komunikasi, perubahan media cetak dan perubahan penggunaan media digital. Kata konvergensi sendiri, dapat diartikan sebagai suatu keadaan menuju satu titik pertemuan, sedangkan media diartikan sebagai alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk (berdasarkan KBBI online). Sehingga konvergensi media dapat disebut sebagai penggabungan beberapa media, baik media cetak maupun elektronik yang mempunyai fungsi berbeda-beda menjadi satu media, yang mewakili fungsi beberapa media tersebut.
       Melihat dari pengertiannya, fenomena inilah yang menyebabkan perusahaan pers harus mengembangkan diri melalui media digital. Sehingga banyak dari perusahaan pers yang menyuguhkan dua versi pemberitaan, yaitu versi cetak dan versi digital, jadi media konvensional yang mulai sepi peminat tidak dihilangkan begitu saja, melainkan diupgrade agar bisa menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Dari situlah, sekarang kita bisa menikmati berbagai macam berita dari berbagai macam sumber melalui handphone canggih kita.
            Nah, adanya kemudahan itu pasti berdampak buat kehidupan kita sehari-hari, dampaknya pun bisa positif maupun negatif. Salah satu dampak positif yang pernah aku alami, aku bisa menyelesaikan banyak pekerjaan dalam sekali waktu (multitasking). Misalnya untuk saat ini, urusan ketik mengetik udah bisa dikerjain lewat smartphone, ya meskipun nggak seleluasa kalau kita ngetik pakai PC atau laptop, setidaknya kita bisa edit dokumen di smartphone kalau keadaan emang lagi mendadak.
Salah satu pengalamanku multitasking yaitu sewaktu aku harus berangkat kuliah dari Yogyakarta dan dapet jatah presentasi, pada saat itu juga aku dapet kabar kalau power point (ppt) yang mau dipakai perlu diedit. Karena keadaanku sedang dalam perjalanan, aku langsung menghubungi teman-teman satu kelompokku, perihal siapa yang bisa mengedit ppt. Ternyata semua temanku sedang tidak bisa mengedit untuk saat itu juga, akhirnya sambil terus berkomunikasi dengan teman-temanku mengenai bagian mana yang perlu diedit, aku membuka makalah melalui smartphoneku dan mengambil beberapa poin untuk ditambahkan dalam ppt, selain itu aku juga harus mengunduh video iklan untuk dijadikan penjelasan. Beberapa kegiatan tersebut, kulakukan dalam satu waktu perjalanan dari Yogyakarta menuju Magelang dengan berbekal smartphone. Praktis dan membantu banget kan?
            Disamping dampak positif tentunya ada dampak negatif yang menyertainya, seperti yang sudah aku jelasin sebelumnya, karena dampak positif udah aku sebutin, sekarang saatnya aku cerita dampak negatif yang berhasil menyerangku. Salah satu dampaknya aku jadi lupa waktu hehe, kalau sudah pegang smartphone, waktu berjam-jam nggak akan kerasa. Buka apapun itu, scroll kesana sini dan sampai lupa masih ada tugas lain yang lebih penting untuk dikerjain, kalau waktu udah mepet barulah bingung ngerjainnya, nyalahin waktu kenapa muternya cepet banget, dan berujung pada penyesalan kenapa kelamaan main smartphone, walaupun masih aja selalu diulangin, hehehe.
            Oke kali ini, aku ada bonus tips untuk kamu nih. Tips kali ini tentang gimana caranya kita menghadapi dampak negatif adanya perkembangan teknologi. Eh khususnya untuk yang terdampak lupa waktu ya, hehe. Biasanya caraku menghadapi lupa waktu, itu dengan memikirkan betapa banyak waktu yang terbuang hanya untuk bermalas-malasan, sedangkan banyak temen-temen di luar sana, yang bisa berproses dan memanfaatkan teknologi secara positif, kebayang-kan betapa tertinggalnya kita. Selain itu buat to do list setiap harinya lalu buat reward and punishment bagi diri kita sendiri untuk setiap pelanggaran dan prestasi yang kita capai, eits prestasi di sini nggak melulu soal juara ya, bisa bangun pagi tanpa pegang hp dulu itu bisa dikatakan prestasi loh, dan buat punishmentnya bisa berlaku ketika kamu nggak melakukan to do list yang udah  kamu buat sebelumnya. Nah, itu dulu ya tips simpel dari aku, semoga mujarab buat ngusir penyakit lupa waktunya, hehe.
So, be wise ya dalam menggunakan teknologi, adanya kemudahan-kemudahan itu harusnya membuat kita berpikir maju bukan malah terlena dan akhirnya teknologilah yang berhasil menguasai kita.
                                                                                                                        Best Regard

                                                                                                                        Dessy N




Referensi:
Anonim. (2018). Pengertian Konvergensi Media dan Contohnya. Dalam https://www.komunikasipraktis.com/2018/02/pengertian-konvergensi-media-definisi-contoh.html. Diakses pada Maret 2019.

Jumat, 08 Maret 2019

Kalau Sekedar Tahu, Aku Tahu Siapa Kamu, tapi Apa Sudah Paham?


Hai readers, sebelum kita bahas yang macem-macem nih, ada baiknya kalau kita kenalan dulu kan. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang, jadi biar makin saling sayang kita harus saling kenal dulu yaa J. Sebelum aku ngasih tahu namaku, aku bakal ngasih gambaran ke kamu dimana setting tempat yang melatarbelakangi terciptanya blog ini yang akan ada tulisan setiap minggunya. Oke, kita mulai menjelajah ya, kamu tahu Candi Borobudur? Iya itu di Magelang, bukan di Jogja, diinget inget ya, Candi Borobudur itu ada di Magelang. Eh, bukan di sana tempatku, kamu harus jalan ke Utara sampai ketemu Gunung Tidar, sebuah bukit yang sering disebut gunung oleh masyarakat sekitar, oh Fyi Gunung Tidar ini merupakan titik tengah Pulau Jawa atau menurut kisah yang berkembang di masyarakat, Gunung Tidar adalah pakunya tanah Jawa, keren kan Magelang. Eh jangan berhenti disitu, kamu masih harus jalan ke Utara buat nemuin salah satu Universitas Negeri di Magelang, di mana lagi kalau bukan di Universitas Tidar. Ya, di situlah aku, tempatku menimba ilmu di bidang Komunikasi, yang mengajarkan aku untuk menyelaraskan ucapan dengan perangai lawan bicaraku.
Btw, sudah dua tahun aku menghuni Kota ini, bisa dikira-kira dong aku semester berapa, iya aku semester 4, sudah memasuki setengah dari masa studiku. Oh iya, namaku Dessy Nuriani, kamu boleh panggil aku Dessy. Sebenernya namaku itu nama yang dicopas dari suster di rumah sakit tempat aku dilahirin, tapi diedit dikitlah, biar nggak dikatain plagiat, hehehe. Untung aku lahir dibulan Desember, jadi nama itu cocok aja kan ya? Aku ini anak pertama dari dua bersaudara, adikku yang lahir bulan Juli akhirnya diberi nama Yulia, kata ibuku biar nggak iri sama mbaknya. Aku ini anggota keluarga yang selalu bikin rame suasana rumah, karena aku seneng banget cerita sama ibuku, kalau sudah kehabisan cerita pasti ada aja pertanyaan-pertanyaan yang menyambung obrolan, beda sama adikku yang susah banget nyusun kata-kata kalau mau cerita, dan berujung nggak jadi cerita,hehehe.
Sebelum aku masuk menjadi mahasiswa, aku senang berceloteh dengan siapapun itu, dan tertarik di bidang public speaking, mungkin itu yang menggiringku untuk memilih program studi Ilmu Komunikasi, walaupun jurusan di SMK nggak ada sangkut pautnya dengan Ilmu Komunikasi (ststst aku dulu anak Teknik Sipil). Namun, entah apa yang membuatku enggan banyak bicara ketika sudah menjadi mahasiswa, hingga membuatku berpikir “pantes nggak sih aku jadi mahasiswa Komunikasi”. Ya sebenernya aku nggak jadi pendiem banget sih, tapi intensitasku untuk cerewet itu berkurang semenjak masuk kuliah, soalnya aku bakal merasa capek kalo kelamaan diem.
Setelah aku menjalani masa studi ku sejauh ini, aku merasa kesukaanku pada bidang tulis menulis tumbuh lagi, sedikit cerita dulu sewaktu SMP aku seneng nulis puisi, ya walaupun belum pernah ikut lomba dan menang, setidaknya tulisanku pernah dimuat dimajalah sekolah, hehehe. Buat kamu yang mau masuk Program Studi Ilmu Komunikasi, kamu harus siap untuk dekat dengan dunia kepenulisan, karena komunikasi itu nggak cuma bisa dilakukan secara lisan. Sampai aku pernah berpikir untuk bisa menerbitkan buku, tapi nyatanya untuk memulai, itu harus punya kebulatan tekad dan nggak omong doang. Awalnya sih aku ngajak temenku sewaktu SMK untuk buat blog, ya buat melatih kemampuan menulis kita, tapi nyatanya kita sama-sama omong doang,heheh. Akhirnya memasuki semester 4 ini, banyak penugasan yang mengharuskanku rajin menulis di blog. Iya aku tahu ini paksaan, tapi nyatanya memang manusia kalau nggak dipaksa nggak bakal terbiasa.
Eh karena ini segmen perkenalan, aku juga bakal bilang kalau aku ini sebenernya suka nari tradisional, nggak jelek-jelek amat kok kalau suruh nari,hehehe. Aku udah suka nari semenjak SD, iya awalnya terpaksa juga, karena ada ekstrakulikuler tari dan wajib diikuti oleh semua siswa, jadi mau nggak mau pasti ikut kan, eh akhirnya jadi suka. Semua itu terus berlanjut hingga aku SMK, sampai pernah punya keinginan bisa jadi juara diajang FLS2N dan bisa bikin sanggar tari. Iya aku orangnya suka banget bikin keinginan, tapi giliran suruh usaha banyak banget setannya,hihi. Eh enggak, aku pejuang tangguh kok, nyatanya aku berani di Magelang tanpa nggandeng temen dari sekolah lama J.
Sebentar, ini aku kenalan tapi kaya nulis esai ya?hehehe, kan sesuai judulnya, biar kamu paham siapa itu Dessy (ih minta dipahami). Oh iya, kedepannya blog ini bakal aku isi dengan tulisan-tulisan menyangkut Ilmu Komunikasi, jadi buat kamu yang tertarik masuk Ilmu Komunikasi, bisa dong mampir kesini J. The last but not least jangan takut untuk menjadi dirimu sendiri, you’re original can’t be replace J
#JurnalismeOnline

                                                                                                                        Best Regard

                                                                                                                        Dessy N