https://images.app.goo.gl/9hMddR65rs5D7p2A7
Saat ini, kecepatan mengunggah berita dijadikan sebagai ajang kompetisi bagi para media untuk menarik audiens, sebagai sarana untuk memenangkannya, para pemilik media menjadikan jurnalis sebagai tumbalnya. Penerapan prinsip "lebih banyak-lebih sedikit" yaitu dengan memperbanyak konten yang diproduksi oleh sedikit jurnalis, lebih banyak dan beragam tugas yang harus diselesaikan dalam waktu singkat serta banyaknya fleksibilitas untuk mengurangi pengeluaran. menyebabkan jurnalis mengalami kelelahan emosional, sinisme dan berkurangnya prestasi individu di tempat kerja.
Para jurnalis dipaksa untuk memiliki kemampuan diberbagai bidang, agar bisa menguntungkan pemilik media (tidak membayar banyak pekerja, jika sedikit pekerja bisa melakukan banyak pekerjaan). Akibatnya, setiap jurnalis akan memiliki tanggungan mempublikasikan berita dalam jumlah besar dalam satu hari, padahal belum tentu dalam satu hari tersebut terdapat informasi yang bisa dijadikan sebagai berita, namun karena adanya tuntutan pekerjaan, mau tidak mau jurnalis harus mempublikasikan artikel sebanyak ketentuan yang berlaku.
Akhirnya, karena terjadi ketidakseimbangan kerja, kurangnya umpan balik dari atasan, minimnya variasi pekerjaan, ketidakpuasan terhadap gaji, beban kerja yang tinggi, ketidakamanan kerja dan kurangnya prospek promosi. Banyak jurnalis yang tidak optimal dalam bekerja dan berdampak pada kualitas berita yang dihasilkan.
Kapitalisme
baru, teknologi dan jurnalisme
Zygmunt
Bouman mengenalkan “modernitas cair” yang menyatakan bahwa evolusi karya media
menjadi cair, hilangnya batasan antara kerja dan waktu luang, profesional
dengan kehidupan pribadi, karyawan dan manajemen, produser dan audiens. Posisi profesional menjadi jauh lebih tidak pasti karena karir di media semakin
dikarakterisasi dalam hal pekerjaan biasa dan kontingen, permintaan tinggi
untuk fleksibilitas dan konvergensi tugas.
Elemen sentral dalam kapitalisme baru adalah individualisasi
tenaga kerja, yang menjadikan tututan dan tanggung jawab yang semula merupakan tanggungan
majikan telah bergeser menjadi tanggungan karyawan, begitu juga dengan kontrol
manajerial atas tenaga kerja yang mulai tumbuh hingga hilangnya solidaritas
sosial antar pekerja. Ditambah dengan adanya teknologi digital baru yang dianggap sebagai pendorong utama dibalik ekonomi dan organisasi transisi di tempat keja.
Transformasi
pekerjaan berita di industri media telah terpukul keras oleh resesi ekonomi
global yang didukung dengan hasil dari perubahan organisasi struktural di media
dan didorong oleh logika pasar yang bertujuan mengurangi biaya dengan
meningkatkan produktivitas dan memaksimalkan laba, yang berdampak pada bertambahnya
angka kehilangan pekerjaan, terutama di kalangan jurnalis. Hal tersebut
akhirnya memunculkan empat tren jenis pekerjaan baru di bidang jurnalistik, (1)
pertumbuhan lapangan kerja yang tidak biasa dan tidak standar dalam profesi
jurnalistik (2) terdapat peningkatan permintaan fleksibilitas temporal lebih
dari tenaga kerja (3) meningkatnya beban kerja jurnalis yang membutuhkan
fleksibilitas temporal lebih dari tenaga kerja (4) meningkatnya pekerjaan di
meja dan semakin berkurangnya pekerjaan di lapangan.
Pekerjaan yang
tidak lazim dan kontingen
Laporan
International Federation of Journalist (IFJ) yang didukung oleh International
Labour Office (ILO) menyebutkan terdapat 38 negara yang menekankan pertumbuhan
hubungan kerja yang tidak biasa dalam industri media. Beberapa pekerjaan yang
muncul bersifat tidak permanen dan atau penuh waktu, pekerjaan lepas, kontrak
sementara dan pekerjaan paruh waktu.
Freelance
Freelance atau bisa disebut pekerjaan
lepas, telah umum dikenal dalam profesi jurnalistik selama beberapa decade terakhir.
Meskipun pekerjaan tersebut membawa manfaat untuk pengusaha dan karyawan, tetap
ada kekhawatiran terhadap pertumbuhan freelance
terkait ketidakamanan pekerjaan, kurangnya prospek promosi dan rendahnya
upah yang diterima, terlebih dengan adanya jurnalisme online, mereka memiliki pesaing diberbagai daerah yang biasa
dikenal dengan citizen journalism atau
jurnalisme warga.
Kontrak sementara
dan pekerjaan paruh waktu
Terdapat
persepsi umum terhadap profesi dalam industri media, yaitu dimulai dengan
magang yang tidak dibayar, penugasan yang dibayar rendah dan kontrak jangka
pendek. Hal tersebut menjadikan kontrak permanen dan penuh waktu menjadi
sesuatu yang langka dalam dunia jurnalistik. Dueze dan Fortunati mengatakan
bahwa beberapa wartawan masih dipekerjakan secara permanen, tetapi sebagian
besar yang lain hanya bekerja pada periode waktu tertentu untuk mengerjakan
suatu aspek pada sebuah proyek. Namun belum ada statistik yang bisa memperkuat
pendapat tersebut.
Fleksibilitas
fungsional dan Multitasking
Menurut
Deuze, pekerjaan berita kontemporer semakin ditandai dengan adanya
fleksibilitas fungsional tingkat tinggi yang membutuhkan profesionalisme
diberbagai bidang.
Jurnalisme
multimedia
Berkaitan
dengan konvergensi media, jurnalis dituntut untuk memiliki keterampilan di
bidang teknologi, mengingat media cetak sudah tidak begitu banyak diminati, dan
banyaknya audiens yang memilih untuk mengonsumsi media online, maka jurnalis harus memiliki kecepatan beradaptasi dengan
perkembangan teknologi agar tidak tergantikan oleh mereka yang lebih kompeten.
Pelebaran
Pekerjaan
Beralihnya
media cetak menjadi media online
memunculkan beberapa pekerjaan baru bagi jurnalis, diantaranya yaitu (1)
manajemen konten, bertugas untuk membuat konten dan bertanggung jawab terhadap
publikasi konten (2) manajer komunitas, bertugas mengawasi, mengoordinasikan
dan merangsang partispasi pengguna terhadap konten yang diunggah (3) moderator
komentar, bertugas memantau dan memfilter reaksi pengguna di situs web (4)
moderator obrolan, bertugas mengatur obrolan langsung dengan pengguna di situs
web.
Beban kerja
meningkat
Tuntutan
untuk bisa melakukan multitasking dan
adanya pelebaran pekerjan, menyebabkan beban kerja jurnalis semakin meningkat. Pernyataan
bahwa teknologi akan meringankan pekerjaan nyatanya tidak sepenuhnya benar,
karena dari pihak manajemen melakukan pengurangan tenaga kerja untuk
memaksimalkan produktivitas dengan tenaga kerja yang minimal.
Kekurangan waktu
Selain
harus bisa multitasking jurnalis juga
dituntut untuk menghasilkan banyak
berita dalam satu hari, yang menyebabkan jurnalis kekurangan waktu untuk
mengambil tugas dan peran baru di luar kantor.
Rasa kedekatan
Hubungan
jurnalis dengan waktu tidak hanya berubah karena meningkatnya beban kerja,
melainkan juga karena “wacana kecepatan”, di mana kecepatan diangggap sebagai
ukuran utama keberhasilan kompetitif dalam industri berita. Jurnalis diharuskan
untuk selalu memperbarui konten dan berpacu dengan waktu untuk menarik audiens.
Adanya teknologi dianggap sebagai katalis untuk menghasilkan berita, padahal
belum tentu dalam satu hari terdapat informasi yang dapat dijadikan sebagai
berita, akhirnya kebanyakan informasi yang diunggah tidak memiliki nilai berita
dan sebenarnya tidak begitu penting diketahui khalayak.
Pekerjaan meja
meningkat
Beralihnya
media cetak ke media online
menunjukkan bagaimana komputerisasi tenaga kerja jurnalis yang menjadikan lebih
banyak pekerjaan meja. Baisnee dan Marchetti mengatakan bahwa organisasi kerja
dan ketergesaan produksi seringkali menyebabkan pemrosesan berita atau gambar yang
sebagian diproduksi oleh orang lain tanpa beranjak dari meja kerja bahkan pada
beberapa kasus, jurnalis tidak pernah pergi ke TKP (Tempat Kejadian Peristiwa).
Semakin banyaknya jurnalis yang bekerja di depan komputer, menyebabkan
pentingnya teknologi digital untuk penelitian dan pengumpulan data meningkat.