Minggu, 26 Mei 2019

Jurnalis: I'm not Robot


Gambar terkait
https://images.app.goo.gl/9hMddR65rs5D7p2A7 

Saat ini, kecepatan mengunggah berita dijadikan sebagai ajang kompetisi bagi para media untuk menarik audiens, sebagai sarana untuk memenangkannya, para pemilik media menjadikan jurnalis sebagai tumbalnya. Penerapan prinsip "lebih banyak-lebih sedikit" yaitu dengan memperbanyak konten yang diproduksi oleh sedikit jurnalis, lebih banyak dan beragam tugas yang harus diselesaikan dalam waktu singkat serta banyaknya fleksibilitas untuk mengurangi pengeluaran. menyebabkan jurnalis mengalami kelelahan emosional, sinisme dan berkurangnya prestasi individu di tempat kerja.
Para jurnalis dipaksa untuk memiliki kemampuan diberbagai bidang, agar bisa menguntungkan pemilik media (tidak membayar banyak pekerja, jika sedikit pekerja bisa melakukan banyak pekerjaan). Akibatnya, setiap jurnalis akan memiliki tanggungan mempublikasikan berita dalam jumlah besar dalam satu hari, padahal belum tentu dalam satu hari tersebut terdapat informasi yang bisa dijadikan sebagai berita, namun karena adanya tuntutan pekerjaan, mau tidak mau jurnalis harus mempublikasikan artikel sebanyak ketentuan yang berlaku.
Akhirnya, karena terjadi ketidakseimbangan kerja, kurangnya umpan balik dari atasan, minimnya variasi pekerjaan, ketidakpuasan terhadap gaji, beban kerja yang tinggi, ketidakamanan kerja dan kurangnya prospek promosi. Banyak jurnalis yang tidak optimal dalam bekerja dan berdampak pada kualitas berita yang dihasilkan.
Kapitalisme baru, teknologi dan jurnalisme
            Zygmunt Bouman mengenalkan “modernitas cair” yang menyatakan bahwa evolusi karya media menjadi cair, hilangnya batasan antara kerja dan waktu luang, profesional dengan kehidupan pribadi, karyawan dan manajemen, produser dan audiens. Posisi profesional menjadi jauh lebih tidak pasti karena karir di media semakin dikarakterisasi dalam hal pekerjaan biasa dan kontingen, permintaan tinggi untuk fleksibilitas dan konvergensi tugas.
            Elemen sentral dalam kapitalisme baru adalah individualisasi tenaga kerja, yang menjadikan tututan dan tanggung jawab yang semula merupakan tanggungan majikan telah bergeser menjadi tanggungan karyawan, begitu juga dengan kontrol manajerial atas tenaga kerja yang mulai tumbuh hingga hilangnya solidaritas sosial antar pekerja. Ditambah dengan adanya teknologi digital baru yang dianggap sebagai pendorong utama dibalik ekonomi dan organisasi transisi di tempat keja. 
           Transformasi pekerjaan berita di industri media telah terpukul keras oleh resesi ekonomi global yang didukung dengan hasil dari perubahan organisasi struktural di media dan didorong oleh logika pasar yang bertujuan mengurangi biaya dengan meningkatkan produktivitas dan memaksimalkan laba, yang berdampak pada bertambahnya angka kehilangan pekerjaan, terutama di kalangan jurnalis. Hal tersebut akhirnya memunculkan empat tren jenis pekerjaan baru di bidang jurnalistik, (1) pertumbuhan lapangan kerja yang tidak biasa dan tidak standar dalam profesi jurnalistik (2) terdapat peningkatan permintaan fleksibilitas temporal lebih dari tenaga kerja (3) meningkatnya beban kerja jurnalis yang membutuhkan fleksibilitas temporal lebih dari tenaga kerja (4) meningkatnya pekerjaan di meja dan semakin berkurangnya pekerjaan di lapangan.
Pekerjaan yang tidak lazim dan kontingen
            Laporan International Federation of Journalist (IFJ) yang didukung oleh International Labour Office (ILO) menyebutkan terdapat 38 negara yang menekankan pertumbuhan hubungan kerja yang tidak biasa dalam industri media. Beberapa pekerjaan yang muncul bersifat tidak permanen dan atau penuh waktu, pekerjaan lepas, kontrak sementara dan pekerjaan paruh waktu.
Freelance
            Freelance atau bisa disebut pekerjaan lepas, telah umum dikenal dalam profesi jurnalistik selama beberapa decade terakhir. Meskipun pekerjaan tersebut membawa manfaat untuk pengusaha dan karyawan, tetap ada kekhawatiran terhadap pertumbuhan freelance terkait ketidakamanan pekerjaan, kurangnya prospek promosi dan rendahnya upah yang diterima, terlebih dengan adanya jurnalisme online, mereka memiliki pesaing diberbagai daerah yang biasa dikenal dengan citizen journalism atau jurnalisme warga.
Kontrak sementara dan pekerjaan paruh waktu
            Terdapat persepsi umum terhadap profesi dalam industri media, yaitu dimulai dengan magang yang tidak dibayar, penugasan yang dibayar rendah dan kontrak jangka pendek. Hal tersebut menjadikan kontrak permanen dan penuh waktu menjadi sesuatu yang langka dalam dunia jurnalistik. Dueze dan Fortunati mengatakan bahwa beberapa wartawan masih dipekerjakan secara permanen, tetapi sebagian besar yang lain hanya bekerja pada periode waktu tertentu untuk mengerjakan suatu aspek pada sebuah proyek. Namun belum ada statistik yang bisa memperkuat pendapat tersebut.
Fleksibilitas fungsional dan Multitasking
            Menurut Deuze, pekerjaan berita kontemporer semakin ditandai dengan adanya fleksibilitas fungsional tingkat tinggi yang membutuhkan profesionalisme diberbagai bidang.
Jurnalisme multimedia
            Berkaitan dengan konvergensi media, jurnalis dituntut untuk memiliki keterampilan di bidang teknologi, mengingat media cetak sudah tidak begitu banyak diminati, dan banyaknya audiens yang memilih untuk mengonsumsi media online, maka jurnalis harus memiliki kecepatan beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar tidak tergantikan oleh mereka yang lebih kompeten.
Pelebaran Pekerjaan
            Beralihnya media cetak menjadi media online memunculkan beberapa pekerjaan baru bagi jurnalis, diantaranya yaitu (1) manajemen konten, bertugas untuk membuat konten dan bertanggung jawab terhadap publikasi konten (2) manajer komunitas, bertugas mengawasi, mengoordinasikan dan merangsang partispasi pengguna terhadap konten yang diunggah (3) moderator komentar, bertugas memantau dan memfilter reaksi pengguna di situs web (4) moderator obrolan, bertugas mengatur obrolan langsung dengan pengguna di situs web.
Beban kerja meningkat
            Tuntutan untuk bisa melakukan multitasking dan adanya pelebaran pekerjan, menyebabkan beban kerja jurnalis semakin meningkat. Pernyataan bahwa teknologi akan meringankan pekerjaan nyatanya tidak sepenuhnya benar, karena dari pihak manajemen melakukan pengurangan tenaga kerja untuk memaksimalkan produktivitas dengan tenaga kerja yang minimal.
Kekurangan waktu
            Selain harus bisa multitasking jurnalis juga dituntut untuk  menghasilkan banyak berita dalam satu hari, yang menyebabkan jurnalis kekurangan waktu untuk mengambil tugas dan peran baru di luar kantor.
Rasa kedekatan
            Hubungan jurnalis dengan waktu tidak hanya berubah karena meningkatnya beban kerja, melainkan juga karena “wacana kecepatan”, di mana kecepatan diangggap sebagai ukuran utama keberhasilan kompetitif dalam industri berita. Jurnalis diharuskan untuk selalu memperbarui konten dan berpacu dengan waktu untuk menarik audiens. Adanya teknologi dianggap sebagai katalis untuk menghasilkan berita, padahal belum tentu dalam satu hari terdapat informasi yang dapat dijadikan sebagai berita, akhirnya kebanyakan informasi yang diunggah tidak memiliki nilai berita dan sebenarnya tidak begitu penting diketahui khalayak.
Pekerjaan meja meningkat
            Beralihnya media cetak ke media online menunjukkan bagaimana komputerisasi tenaga kerja jurnalis yang menjadikan lebih banyak pekerjaan meja. Baisnee dan Marchetti mengatakan bahwa organisasi kerja dan ketergesaan produksi seringkali menyebabkan pemrosesan berita atau gambar yang sebagian diproduksi oleh orang lain tanpa beranjak dari meja kerja bahkan pada beberapa kasus, jurnalis tidak pernah pergi ke TKP (Tempat Kejadian Peristiwa). Semakin banyaknya jurnalis yang bekerja di depan komputer, menyebabkan pentingnya teknologi digital untuk penelitian dan pengumpulan data meningkat.

Minggu, 19 Mei 2019

Jurnalis Robot sebagai Dampak Revolusi Industri di Bidang Komunikasi


Hasil gambar untuk jurnalis robot
https://images.app.goo.gl/pYXDUGj9mT6jFB6z8 

Revolusi industri sudah dimulai sejak akhir abad ke-18, yang ditandai dengan munculnya mesin uap. Setelah berkembangnya mesin uap, revolusi industri terus bergerak maju dan semakin membutuhkan waktu singkat untuk menuju fase selanjutnya. Jika melihat dari perubahan yanh terjadi saat ini, kita berada dalam fase revolusi industri 4.0, yaitu revolusi industri digital yang menjembatani manusia dengan dunia cyber. Salah satu ciri penting revolusi industri 4.0 adalah personalisasi atau penyesuaian spesifikasi produk barang dan jasa sesuai kebutuhan konsumen secara individu. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan algoritma digital, yang bekerja dengan cara melakukan interaksi terhadap representasi seseorang di dunia digital, sehingga ketika seseorang membuka portal berita mengenai hasil penghitungan suara KPU, maka algoritma akan memberikan rekomendasi berita-berita yang berhubungan dan mungkin dibutuhkan pembaca, dengan begitu orang tersebut tidak perlu mengetik ulang untuk mencari berita terkait.
Dalam industri komunikasi, perubahan tersebut dapat dilihat dengan adanya peleburan batas antar berbagai jenis media masaa konvensional seperti koran, majalah, radio dan televisi dalam satu ruang yang difasilitasi teknologi internet, fenomena tersebut dikenal dengan istilah konvergensi media. Salah satu contohnya yaitu munculnya berbagai media online sebagai alternatif menurunnya oplah media cetak sebagai akibat dari konvergensi media. Maraknya media online ini juga disebabkan karena kelebihan-kelebihan yang dirasakan masyarakat yang tidak bisa mereka dapatkan ketika membaca media cetak, slah satunya yaitu kecepatan penyebaran informasi dan keragaman konten. Kedua kelebihan tersebut membuat jurnalis harus bisa mencari dan menyebarkan berita secara cepat. Bermula dari situlah, jurnalis robot diciptakan dengan tujuan membantu tugas jurnalis manusia.
Jurnalisme robot adalah salah satu jenis dari Computer Assisted Reporting (CAR) tingkat lanjut yang menggunakan AI atau Artificial Intelligence (Amran, Irwansyah, 2018:169) atau bisa dikatakan sebuah robot yang ditanami kecerdasan buatan untuk bisa menghasilkan artikel berita. Jurnalis robot atau yang biasa disingkat dengan RJ masih tergolong teknologi baru, karena baru digunakan pertama kali pada tahun 2014 oleh Associated Press (AP) dan di Indonesia sendiri baru digunakan oleh media beritagar.id pada tahun 2018. Sehingga untuk saat ini RJ hanya bisa membantu jurnalis manusia dalam menuliskan berita mengenai olahraga, gempa bumi, bursa efek, dan laporan keuangan, karena unsur-unsur keempat berita tersebut tetap dan tidak memerlukan klarifikasi dari berbagai pihak yang didapat melalui wawancara (RJ belum bisa melakukan tugas wartawan untuk mencari narasumber yang terpercaya).
Kalau begitu apakah jurnalis robot bisa melakukan kesalahan? Tentu saja bisa, karena sistem kerja RJ adalah dengan menghimpun berbagai informasi dari internet bisa saja data yang terhimpun adalah data yang sudah tidak valid digunakan, salah satu contohnya yaitu terjadi pada The Los Angeles Times dengan Quakebot yang mampu memprediksi gempa bumi secara otomatis. Kesalahan prediksi terjadi pada bulan Juni ketika terjadi gempa di Santa Barbara dengan kekuatan 6,8 Skala Richter. Koran The Los Angeles Times memuat pemberitaan tersebut, dan gempa di Santa Barbara memang benar terjadi, namun kejadian tersebut ternyata terjadi pada tahun 1925 silam, akhirnya pihak The Los Angeles Times mengoreksi pemberitaan tersebut.
Lalu bagaimana dengan jurnalis manusia? Apakah mereka juga bisa tergantikan oleh adanya jurnalis robot? Andrey Miroshnichenko yakin menjawab "Ya" didukung dengan pernyataan Kurzweil yang mengatakan bahwa hal tersebut bisa terjadi ketika manusia bisa mengembangkan super AI atau singularity (dilansir dari majalah tempo.co). Namun menurut Noam Lemelshtrich Latar general AI, super AI atau singularity masih jauh dari jangkauan kita (majalah tempo.co). Sehingga masih ada kesempatan bagi jurnalis manusia untuk bisa bersaing dengan jurnalis robot, salah satu tugas yang penting dilakukan jurnalis manusia di era kecerdasan buatan menurut pemimpin Daniel Pearl International Journalism Institute di Interdiciplinary Center Herzliya, Israel adalah harus sadar dan membuat pembaca sadar akan bahaya AI, yang memungkinakan raksasa-raksasa internet lebih berkuasa daripada pemerintah. Selain itu, perkembangan AI juga akan berpotensi melanggar Zeroth Law, yaitu suatu keharusan robot untuk tidak melanggar kemanusiaan, sebab robot tidak dapat diprogram secara efektif untuk melindungi Hak Asasi Manusia dan kebebasan berbicara yang sangat di perlukan bagi ketahanan sosial.
Menurut saya, jurnalis robot tidak akan bisa menggantikan jurnalis manusia, merujuk pada sembilan elemen jurnalistik  Bill Kovach, yang di dalamnya memuat jurnalis harus mendengarkan hati nurani, sedangkan robot tidak memiliki hati nurani, dan saya rasa tidak ada teknologi yang bisa menyamai hati nurani manusia, yang artinya artikel yang dibuat jurnalis robot tidak akan bisa memuat sembilan elemen jurnalistik tersebut. Oleh karena itu, adanya RJ hanya untuk membantu jurnalis untuk melakukan tugas yang tidak memerlukan keahlian khusus sedangkan jurnalis akan melakukan tugas yang lebih mendalam yang tidak bisa dilakukan oleh robot, seperti melakukan investigasi, melakukan wawancara, memberikan opini terhadap suatu peristiwa dll.


Referensi:
Amran, Sri Oktika, Irwansyah. 2018. Jurnalisme Robot dalam Media Daring Beritagar.id. Jurnal IPTEK-KOM. Vol 20 hlm 169-182.
Ariestyani, Kencana. 2019. Meninjau Automatic Journalism: Tantangan dan Peluang di Industri Media di Indonesia. Jurnal Konvergensi. Vol 1. hlm 51- 65.





Minggu, 14 April 2019

Jejak Rizky Febian/Album Musik 2018



Album Jejak Rizky FebianSumber Gambar: http://mediaindonesia.com/read/detail/199916-belialbumfisikcom-buka-penjualan-boxset-rizky-febian 


Menari... Bersamamu... Temani... Hingga akhir waktu...
Coba tebak itu potongan lagu apa? Yap, itu potongan salah satu lagu favorit aku dari Rizky Febian, judulnya Menari. Lagu ini juga masuk dalam album perdana si Iky bersama 8 lagu lainnya loh, eh emang Rizky Febian udah punya album ya? Udah dong, November 2018 kemarin albumnya udah released dengan judul Jejak. Dan kamu tau nggak? Bentuk albumnya itu bikin pingin banget beli, karena bentuknya yang nggak biasa aja dan apa yang kita dapetin itu nggak cuma sekedar cassette. Jadi, bentuk album Jejak ini adalah koper kecil bergambar jejak perjalanan berisikan bluetooth speaker, T-shirt, board game, dan sertifikat kepemilikan album bertanda tangan Rizky Febian.
Loh, terus lagunya di mana, kok nggak ada cassette nya? Eits, walaupun nggak ada cassette nya, Iky kan udah ngasih bluetooth speaker di dalam album. Yaa, speaker itu udah berisi sembilan lagu Iky, diantaranya I'm not Ready for Another Love, Nona, Reuni, Ragu, Pergi Menjauh, Hanya Engkau, Keseriusan, Menari, dan Bahasa Cinta. Semua genre lagunya pop dengan alunan khas suara Rizky Febian yang sedikit berbumbu dangdut.
Lagu I'm not ready for another love bercerita tentang bagaimana seseorang belum bisa move one dari cinta lamanya dan selalu terngingang tentang masa lalunya, namun apalah daya dia tidak bisa mengulanginya kembali hingga dia belum siap untuk bertemu cinta yang baru. Lagu kedua yaitu Nona, bercerita tentang seorang pria yg sedang kasmaran dengan seorang wanita yang disebut Nona, dia sudah berusaha mengungkapkan perasaannya, namun si Nona yg belum kunjung memberi jawaban membuat si pria semakin tak sabar menunggunya. Lagu selanjutnya, Reuni bercerita tentang pertemua dua orang sahabat yang sudah lama tak bertemu, sehingga membiarkan cerita lama keduanya mengalir kembali.
Lagu keempat, Ragu bercerita tentang keraguan seorang perempuan pada pacarnya, yang kemudian diyakinkan oleh pacarnya tak perlu ada keraguan dalam dirinya karena dia pasti bahagia bersamanya. Lagu berikutnya, Pergi Menjauh bercerita tentang rasa yang sudah tak berpemilik lagi, karena pemiliknya sudah pergi meninggalkan di laki-laki. Selanjutnya lagu Hanya Engkau, bercerita tentang kisah kasmaran seorang laki-laki yang menemukan tambatan hati yang sudah cocok di hatinya, hingga disebutlah hanya kau yang jadi segalanya. Lagu berikutnya, Keseriusan, yang bercerita tentang bagaimana seorang laki-laki yang nggak diseriusin si perempuan, yang akhirnya dia sedih dan merasa cintanya sia-sia. Lagu selanjutnya yaitu, Menari, yang bercerita soal cinta segitiga antara dua penari yang sudah berpacaran dan satu orang bukan penari yang menjadi penganggum rahasianya, si laki-laki pengagum nggak berani ngomong ke si perempuan dan hanya berharap di kehidupan baru dia bisa ditakdirkan bersama. Dan lagu terakhir, yaitu lagu Bahasa Cinta, bercerita tentang tidak adanya kata-kata cinta yang bisa digunakan untuk mengungkapkan perasaan cinta, jadi tutup saja dua telinga biar hati yang merasa.

Wah, ini cinta semua ya isi lagu si Iky, yaa maklum lah mungkin Iky lagi sering jatuh cinta, jadi lagunya soal cinta semua,hehe. Menurut aku, lagu-lagu Iky ini cocok dijadiin temen ngerjain tugas atau penghilang stress ketika pekerjaan numpuk atau capek ngerjain tugas, suaranya Iky bisa sedikit membantu untuk menenangkan diri. Weekend kali ini, coba aja puter lagu-lagu dari Rizky Febian, dijamin ketagihan, hihi..

Minggu, 07 April 2019

Birokrasi Baru, Aturan-pun Baru

293 dari 374 mahasiswa Universitas Tidar yang mengisi survei dari LPM Mata, menyatakan tidak setuju, dengan aturan jam malam yang baru diputuskan pada 20 Maret 2019 lalu. Melalui surat edaran nomor 310/UN57/TU/2019, perihal penataan tertib lingkungan kampus yang diedarkan pada 21 Maret 2019, terdapat 4 poin peraturan yang mulai berlaku pada 01 April 2019. Salah satu poin yang membuat mahasiswa menolak aturan baru ini adalah pada poin kedua yang berbunyi, “untuk kegiatan kulikuler dan kokulikuler di lingkungan kampus dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku mulai jam 07.00 WIB sampai dengan jam 21.00 WIB.
Sumber: Instagram @lpmmata_untidar
25 Maret 2019, konsolidasi KM Universitas Tidar yang dihadiri oleh perwakilan Ormawa maupun UKM di lingkungan Universitas Tidar. Hasil konsolidasi tersebut, kemudian disampaikan melalui sebuah Press Release pada 26 Maret 2019. Hal tersebut berisikan alasan penolakan terhadap poin 2 dan 3, di mana salah satu alasannya yaitu belum disosialisasikannya SK Rektor Universitas Tidar No 58/UN57/HK,02/2019 kepada Ormawa maupun mahasiswa pada umumnya. Serta mempertanyakan lampiran surat edaran yang tidak turut serta dilampirkan.
Setelah Press Release tersebut keluar, tidak ada kegiatan signifikan dari mahasiswa, dikarenakan belum berjalannya kegiatan tersebut. Namun setelah 01 April 2019, ternyata aturan tersebut mulai berlaku, dan LPM Mata berusaha melakukan survei diantara para mahasiswa serta mewawancarai pihak rektorat sebagai klarifikasi yang bisa disampaikan kepada mahasiswa melalui buletin LPM Mata. Sayangnya, hanya 374 mahasiswa yang mengikuti survei tersebut dan tidak semuanya menyatakan tidak setuju, padahal jumlah keseluruhan mahasiswa di Universitas Tidar adalah sebanyak 5183, lalu kemanakah 4809 suara lainnya?
Survei tersebut dilakukan melalui google form, yang disebarkan keseluruh grup-grup mahasiswa Universitas Tidar, namun saya kira, survei tersebut belum cukup memadai untuk dilakukan aksi penolakan, mengingat keputusan yang sah paling tidak terdapat 2/3 dari jumlah keseluruhan anggota. Setidaknya terdapat 3455 anggota yang menyuarakan pendapatnya untuk bisa dilakukan penolakan, dan munculnya buletin LPM Mata pada 02 April 2019, dapat dikatakan malah memperkeruh keadaan. Narasumbernya-pun saya kira kurang tepat dan kurang banyak. LPM Mata seharusnya, memperbanyak narasumber agar bisa memberikan informasi yang bisa menciptakan keadaan yang damai antar publiknya.
Narasumber yang harusnya ditemui adalah Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni atau langsung ke Rektor Universitas Tidar, bukan malah Wakil Rektor Bidang Umum dan Keungan. Entah apa yang menjadi pertimbangan LPM Mata memilih beliau, yang pada akhirnya membuat kondisi mahasiswa kembali memanas, akibat peryataanya. Pernyataan Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan, akhirnya berhasil membangunkan singa tidur. Seketika story di WhatsApp menampung banyak kekesalan dari mahasiswa, yang sangat disayangkan dari LPM Mata, mereka tidak membuat video saat wawancara dengan WR II, agar mahasiswa bisa menilai dengan sendiri apa maksud dari ucapan beliau. Akan menjadi lebih baik, jika LPM Mata membuat wawancara dengan banyak publik terkait adanya jam malam, sehingga akan memberikan informasi kepada publik mengenai penyebab diterapkannya jam malam di Universitas Tidar.
Selain itu, pihak yang berhubungan langsung dengan peraturan ini, selain mahasiswa adalah satpam Universitas Tidar, juga tidak dimintai pendapat. Jum’at lalu secara tidak sengaja saya dan teman saya ke pos satpam, awalnya kita hanya ingin mengambil paket, namun tiba-tiba kami teringat jam malam. Obrolan tersebut akhirnya memberi kami informasi tambahan, mengenai penyebab diterapkannya jam malam. Salah satunya yaitu karena adanya laporan dari warga sekitar kampus yang menyatakan “saiki kampus kok dadi nggon kumpul kebo to” atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan “sekarang kampus kok jadi tempat hidup bersama layaknya suami istri sih”. Mereka berkata demikian karena melihat laki-laki dan perempuan masuk kampus berdua lebih dari jam 22.00 WIB tapi tidak keluar lagi.
Pihak satpam pun pernah memergoki sepasang muda-mudi di belakang Bank Jateng, sebelum melakukan hal-hal terlarang, akhirnya pihak satpam menegur mereka. Bebasnya akses masuk kampus ketika malam hari, menyebabkan satpam tidak tahu apakah mereka mahasiswa Universitas Tidar atau pihak luar, yang pasti, jika warga setempat berhasil memergoki mereka dan berniat untuk menangkap mereka, pastinya akan berimbas pada nama baik Universitas Tidar, maka diberlakukannya jam malam ini, untuk membatasi pihak luar kampus yang masuk sembarangan. Ke depannya Universitas Tidar juga akan membuat portal masuk khusus mahasiswa Universitas Tidar dan non mahasiswa Universitas Tidar, namun entah akan dibuat di mana, mengingat akses masuk kampus hanya satu.
Masalah yang sejak dulu selalu terjadi di Universitas Tidar adalah kurangnya komunikasi antar stakeholder. Perlu adanya ruang publik untuk menyampaikan kebijakan-kebijakan baru yang akan diterapkan di kampus. Agar semua stakeholder berhak menyampaikan apa yang sebenarnya ia rasakan. Pembuat kebijakanpun perlu  mendengar aspirasi dari berbagai pihak, agar dalam membuat kebijakan tidak merugikan salah satu pihak.











Minggu, 31 Maret 2019

Yuk, Ciptakan Ruang Publik yang Bebas Intervensi



Apakah maraknya portal berita online saat ini, sudah memberikan ruang publik untukmu? Kalau kata Pakdhe Habermas, ruang publik atau bahasa kerennya public sphere adalah ruang terjadinya berbagai diskusi dan debat publik mengenai suatu permasalahan publik, di mana setiap individu sebagai bagian dari publik mempunyai porsi sama dalam menyampaikan pendapat dan akan dijamin kebebasannya dari pihak lain sehingga tidak akan muncul opini namun akan memunculkan kebijakan publik yang adil. Indonesia adalah negara demokratis, artinya Indonesia menganut sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sebagai upaya untuk mewujudkan hal tersebut, maka Indonesia memerlukan ruang publik yang mudah diakses publik dan ada jaminan kebebasan mengungkapkan pendapat di dalamnya. Syarat yang harus dipenuhi ruang publik diantaranya, (a)rapat harus bersifat publik, (b)warga negara mencerminkan dan memutuskan secara kolektif daripada individu (c)semua warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk berartisipasi (d)keputusan menghidupkan argumen, bukan pada kekuatan paksaan (e)warga negara mendapat informasi sepenuhnya (f) semua alternatif dipertimbangkan (g)musyawarah adalah proses berkelanjutan yang didukung oleh institusi (h)argumen didasarkan pada prinsip-prinsip umum dan menarik untuk kebaikan bersama, tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri.
Nah, salah satu fungsi dari jurnalisme dalam masyarakat demokratis adalah memunculkan diskusi publik dan pembentukan opini publik. Sehingga tidak seharusnya jika media menggiring pemikiran masyarakat untuk memenuhi keinginan individu tertentu. Saat ini, pemilihan wakil rakyat baik dari tingkat desa sekalipun hingga tingkat pusat masih menganut teori elit yang memahami demokrasi sebagai mekanisme untuk memilih pemimpin politik dalam persaingan antar partai melalui pemungutan suara, dan hanya menjadikan warga negara sebagai konsumen tata kelola saja. Ibarat mengerjakan ujian, masyarakat hanya disediakan soal pilihan ganda, yang harus memilih salah satu jawaban yang telah disediakan tanpa boleh mengajukan pendapat jawaban lain yang menurutnya lebih tepat atau memberikan pendapat mengapa dia memilih jawaban tersebut.
Akhirnya Pakdhe Habermas usul lagi nih, dia kurang setuju dengan berlakunya teori etis di kalangan masyarakat demokratis, seharusnya dalam pemilihan wakil rakyat perlu melalui proses diskusi publik yang rasional, di mana rakyat berhak mengetahui siapa saja yang siap menjadi wakilnya dalam pemerintahan dan menyatakan pendapatnya mengenai siapa wakil yang dapat mewakili dirinya di pemerintahan kelak. Melalui forum tersebut, masyarakat tahu mengapa si A memilih X, si B memilih Y, yang akan menggiring pemikiran individu untuk dapat menghargai keputusan bersama secara legowo. Model ini  disebut sebagai model demokrasi deliberatif, yang mementingkan aspek musyawarah untuk mufakat yang bisa dimunculkan dalam keadaan apapun (formal maupun non formal). Di sini, publik tidak hanya diartikan sebagai konsumen tata kelola saja melainkan sebagai realitas sosial yang ada dalam  proses interaksi rasional, karena legitimitas tidak hanya terletak pada banyaknya suara melainkan cara pengambilan keputusan tersebut, jadi diperlukan diskursus yang terus menerus.
Seiring dengan berkembangnya teknologi, media informasi berusaha memunculkan ruang publik melalui sistem online, bahkan beberapa media konvensional terpaksa gulung tikar dan beralih ke media digital untuk tetap bisa eksis di kalangan masyarakat, namun ada juga media yang benar-benar baru, saat ada trend media digital. Jika dilihat dari ketersediaan ruang publik, media konvensional kurang memenuhi akan hal tersebut, mengingat feedback yang diberikan pembaca bersifat tertunda dan tidak memungkikan adanya rubrik diskusi langsung di media konvensional, berbeda dengan media digital, di sini masyarakat langsung bisa menanggapi informasi yang diunggah atau bisa saja mengklarifikasi kebenaran informasi tersebut yang selanjutnya bisa memberi ruang diskusi antarpembaca.
Namun, ruang publik yang disediakan belum memiliki pelindung kebebasan berpendapat, kenyataannya masih ada kejadian saling membully antar komentator. Hal tersebut menyebabkan pemilik suara minoritas ditekan oleh suara mayoritas, dan berujung pada ketakutan menyatakan pendapat oleh kaum minoritas, padahal belum tentu pendapat mayoritas adalah yang terbaik. Bentuk lainnya yaitu pada acara di televisi, dalam acara Mata Najwa dan Indonesia Lawyer Club (ILC), kedua sama-sama membuka ruang diskusi mengenai masalah publik yang sedang terjadi, namun apa kamu sadar perbedaan diantara keduanya? Jika dilihat dari narasumber, Mata Najwa mencoba mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tampil memberikan tanggapannya dan memberikan porsi lebih lama bagi narasumber yang memang bersentuhan langsung atau mengalami masalah yang sedang dibahas, sedangkan komposisi narasumber di ILC didominasi oleh kaum elit yang tidak bersinggungan langsung dengan masalah yang terjadi, masyarakat yang terlibat dalam permasalahan hanya dijadikan sebagai pelengkap saja, hal tersebut dibuktikan dengan pemberian waktu yang singkat dari lama jam tayang
Beralih lagi ke media digital, kini mulai banyak dikembangkan jurnalisme warga atau bahasa kerennya citizen journalism, jurnalisme warga adalah aktivitas jurnalistik yang dilakukan oleh warga biasa (bukan wartawan), di mana warga berperan aktif dalam pengumpulan, pelaporan, analisis dan penyebarluasan informasi. Kemudahan akses ke media, memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk turut serta menjadi produser pesan, tidak lagi hanya sebagai penikmat saja. Namun perlu digaris bawahi bahwa dengan adanya kemudahan ini, harus ada pengawasan dari pers sehingga kebebasan menyampaikan informasi ini tidak dijadikan kebebasan yang tak bertanggung jawab dan dijadikan alat penyebar hoax dan propaganda kepada masyarakat lainnya.
Sebelum menjadi pengawas dari jurnalisme warga, setidaknya pers harus mampu memberikan contoh bagaimana pemberitaan yang memenuhi standar. Salah satu contohnya yaitu tidak memberatkan salah satu pihak yang terlibat dalam suatu masalah, jika media memberitakan sebuah masalah dengan condong ke salah satu pihak, secara tidak langsung akan mengajak publik untuk mengikuti apa yang media beritakan, seharusnya media hanya memberikan pengertian dan detail masalah yang sedang terjadi tanpa menambahkan bumbu-bumbu yang bisa memengaruhi pemikiran dari pembaca.
Begitu juga untuk pembaca, sebelum menyebarkan berita, harusnya dipastikan dulu sumbernya dan cari sebanyak mungkin pemberitaan yang sama dari media yang berbeda untuk memastikan masalah sebenarnya. Sebarkan apa yang sebenarnya terjadi tanpa memihak ke siapapun dan berusahalah membuka ruang publik yang bersih dari intervensi pihak mana pun serta tidak menjatuhkan suara minoritas. Budayakan kembali kehangatan musyawarah untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara yang demokratis.

                                                                                                            Best Regard
                                                                                                                        Dessy N




Referensi:
1. FN, Kiki. (2018). Teori "Public Sphere" Habermas dalam Komunikasi Internasional dalam https://medium.com/@fitriakiki011/teori-public-sphere-habermas-dalam-komunikasi-internasional-4433d3e1199c 
2. The Handbook of Global Online Journalism

Sabtu, 16 Maret 2019

Konvergensi Media, Satu Benda Multiguna

                                                           Sumber: https://goo.gl/images/R3ovjg
Kata Mr. McLuhan, perkembangan teknologi dari masa ke masa akan memberikan pengaruh besar bagi masyarakat, dan memang sudah terbukti, kita sebagai bagian dari masyarakat akan terus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, biar nggak disebut ketinggalan zaman. Contoh kecilnya smartphone, sekarang benda itu sudah bukan menjadi kebutuhan tersier lagi, melainkan berubah menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang. Karena selain berfungsi untuk komunikasi, handphone masa kini juga bisa melakukan banyak fungsi. Misalnya, dulu kalau kita mau cari informasi harus baca koran atau nonton tv, mau dengerin musik harus muter radio, mau kirim surat harus ke kantor pos, mau belanja harus ke pasar, dan masih banyak aktivitas lain yang harus dilakukan satu persatu, tapi sekarang dengan adanya smartphone, semua bisa kita lakukan dalam sekali waktu dan cuma bermodal smartphone sama paket internet.
            Penjelasan di atas menunjukkan, kalau saat ini kita sedang merasakan adanya konvergensi media, apasih konvergensi media itu? Menurut Mr. Flow konvergensi media terdiri dari tiga poin penting, diantaranya computing&information technology, communication network, dan digital content yang berdampak pada terjadinya perubahan media informasi, perubahan cara melakukan komunikasi, perubahan media cetak dan perubahan penggunaan media digital. Kata konvergensi sendiri, dapat diartikan sebagai suatu keadaan menuju satu titik pertemuan, sedangkan media diartikan sebagai alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk (berdasarkan KBBI online). Sehingga konvergensi media dapat disebut sebagai penggabungan beberapa media, baik media cetak maupun elektronik yang mempunyai fungsi berbeda-beda menjadi satu media, yang mewakili fungsi beberapa media tersebut.
       Melihat dari pengertiannya, fenomena inilah yang menyebabkan perusahaan pers harus mengembangkan diri melalui media digital. Sehingga banyak dari perusahaan pers yang menyuguhkan dua versi pemberitaan, yaitu versi cetak dan versi digital, jadi media konvensional yang mulai sepi peminat tidak dihilangkan begitu saja, melainkan diupgrade agar bisa menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Dari situlah, sekarang kita bisa menikmati berbagai macam berita dari berbagai macam sumber melalui handphone canggih kita.
            Nah, adanya kemudahan itu pasti berdampak buat kehidupan kita sehari-hari, dampaknya pun bisa positif maupun negatif. Salah satu dampak positif yang pernah aku alami, aku bisa menyelesaikan banyak pekerjaan dalam sekali waktu (multitasking). Misalnya untuk saat ini, urusan ketik mengetik udah bisa dikerjain lewat smartphone, ya meskipun nggak seleluasa kalau kita ngetik pakai PC atau laptop, setidaknya kita bisa edit dokumen di smartphone kalau keadaan emang lagi mendadak.
Salah satu pengalamanku multitasking yaitu sewaktu aku harus berangkat kuliah dari Yogyakarta dan dapet jatah presentasi, pada saat itu juga aku dapet kabar kalau power point (ppt) yang mau dipakai perlu diedit. Karena keadaanku sedang dalam perjalanan, aku langsung menghubungi teman-teman satu kelompokku, perihal siapa yang bisa mengedit ppt. Ternyata semua temanku sedang tidak bisa mengedit untuk saat itu juga, akhirnya sambil terus berkomunikasi dengan teman-temanku mengenai bagian mana yang perlu diedit, aku membuka makalah melalui smartphoneku dan mengambil beberapa poin untuk ditambahkan dalam ppt, selain itu aku juga harus mengunduh video iklan untuk dijadikan penjelasan. Beberapa kegiatan tersebut, kulakukan dalam satu waktu perjalanan dari Yogyakarta menuju Magelang dengan berbekal smartphone. Praktis dan membantu banget kan?
            Disamping dampak positif tentunya ada dampak negatif yang menyertainya, seperti yang sudah aku jelasin sebelumnya, karena dampak positif udah aku sebutin, sekarang saatnya aku cerita dampak negatif yang berhasil menyerangku. Salah satu dampaknya aku jadi lupa waktu hehe, kalau sudah pegang smartphone, waktu berjam-jam nggak akan kerasa. Buka apapun itu, scroll kesana sini dan sampai lupa masih ada tugas lain yang lebih penting untuk dikerjain, kalau waktu udah mepet barulah bingung ngerjainnya, nyalahin waktu kenapa muternya cepet banget, dan berujung pada penyesalan kenapa kelamaan main smartphone, walaupun masih aja selalu diulangin, hehehe.
            Oke kali ini, aku ada bonus tips untuk kamu nih. Tips kali ini tentang gimana caranya kita menghadapi dampak negatif adanya perkembangan teknologi. Eh khususnya untuk yang terdampak lupa waktu ya, hehe. Biasanya caraku menghadapi lupa waktu, itu dengan memikirkan betapa banyak waktu yang terbuang hanya untuk bermalas-malasan, sedangkan banyak temen-temen di luar sana, yang bisa berproses dan memanfaatkan teknologi secara positif, kebayang-kan betapa tertinggalnya kita. Selain itu buat to do list setiap harinya lalu buat reward and punishment bagi diri kita sendiri untuk setiap pelanggaran dan prestasi yang kita capai, eits prestasi di sini nggak melulu soal juara ya, bisa bangun pagi tanpa pegang hp dulu itu bisa dikatakan prestasi loh, dan buat punishmentnya bisa berlaku ketika kamu nggak melakukan to do list yang udah  kamu buat sebelumnya. Nah, itu dulu ya tips simpel dari aku, semoga mujarab buat ngusir penyakit lupa waktunya, hehe.
So, be wise ya dalam menggunakan teknologi, adanya kemudahan-kemudahan itu harusnya membuat kita berpikir maju bukan malah terlena dan akhirnya teknologilah yang berhasil menguasai kita.
                                                                                                                        Best Regard

                                                                                                                        Dessy N




Referensi:
Anonim. (2018). Pengertian Konvergensi Media dan Contohnya. Dalam https://www.komunikasipraktis.com/2018/02/pengertian-konvergensi-media-definisi-contoh.html. Diakses pada Maret 2019.

Jumat, 08 Maret 2019

Kalau Sekedar Tahu, Aku Tahu Siapa Kamu, tapi Apa Sudah Paham?


Hai readers, sebelum kita bahas yang macem-macem nih, ada baiknya kalau kita kenalan dulu kan. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang, jadi biar makin saling sayang kita harus saling kenal dulu yaa J. Sebelum aku ngasih tahu namaku, aku bakal ngasih gambaran ke kamu dimana setting tempat yang melatarbelakangi terciptanya blog ini yang akan ada tulisan setiap minggunya. Oke, kita mulai menjelajah ya, kamu tahu Candi Borobudur? Iya itu di Magelang, bukan di Jogja, diinget inget ya, Candi Borobudur itu ada di Magelang. Eh, bukan di sana tempatku, kamu harus jalan ke Utara sampai ketemu Gunung Tidar, sebuah bukit yang sering disebut gunung oleh masyarakat sekitar, oh Fyi Gunung Tidar ini merupakan titik tengah Pulau Jawa atau menurut kisah yang berkembang di masyarakat, Gunung Tidar adalah pakunya tanah Jawa, keren kan Magelang. Eh jangan berhenti disitu, kamu masih harus jalan ke Utara buat nemuin salah satu Universitas Negeri di Magelang, di mana lagi kalau bukan di Universitas Tidar. Ya, di situlah aku, tempatku menimba ilmu di bidang Komunikasi, yang mengajarkan aku untuk menyelaraskan ucapan dengan perangai lawan bicaraku.
Btw, sudah dua tahun aku menghuni Kota ini, bisa dikira-kira dong aku semester berapa, iya aku semester 4, sudah memasuki setengah dari masa studiku. Oh iya, namaku Dessy Nuriani, kamu boleh panggil aku Dessy. Sebenernya namaku itu nama yang dicopas dari suster di rumah sakit tempat aku dilahirin, tapi diedit dikitlah, biar nggak dikatain plagiat, hehehe. Untung aku lahir dibulan Desember, jadi nama itu cocok aja kan ya? Aku ini anak pertama dari dua bersaudara, adikku yang lahir bulan Juli akhirnya diberi nama Yulia, kata ibuku biar nggak iri sama mbaknya. Aku ini anggota keluarga yang selalu bikin rame suasana rumah, karena aku seneng banget cerita sama ibuku, kalau sudah kehabisan cerita pasti ada aja pertanyaan-pertanyaan yang menyambung obrolan, beda sama adikku yang susah banget nyusun kata-kata kalau mau cerita, dan berujung nggak jadi cerita,hehehe.
Sebelum aku masuk menjadi mahasiswa, aku senang berceloteh dengan siapapun itu, dan tertarik di bidang public speaking, mungkin itu yang menggiringku untuk memilih program studi Ilmu Komunikasi, walaupun jurusan di SMK nggak ada sangkut pautnya dengan Ilmu Komunikasi (ststst aku dulu anak Teknik Sipil). Namun, entah apa yang membuatku enggan banyak bicara ketika sudah menjadi mahasiswa, hingga membuatku berpikir “pantes nggak sih aku jadi mahasiswa Komunikasi”. Ya sebenernya aku nggak jadi pendiem banget sih, tapi intensitasku untuk cerewet itu berkurang semenjak masuk kuliah, soalnya aku bakal merasa capek kalo kelamaan diem.
Setelah aku menjalani masa studi ku sejauh ini, aku merasa kesukaanku pada bidang tulis menulis tumbuh lagi, sedikit cerita dulu sewaktu SMP aku seneng nulis puisi, ya walaupun belum pernah ikut lomba dan menang, setidaknya tulisanku pernah dimuat dimajalah sekolah, hehehe. Buat kamu yang mau masuk Program Studi Ilmu Komunikasi, kamu harus siap untuk dekat dengan dunia kepenulisan, karena komunikasi itu nggak cuma bisa dilakukan secara lisan. Sampai aku pernah berpikir untuk bisa menerbitkan buku, tapi nyatanya untuk memulai, itu harus punya kebulatan tekad dan nggak omong doang. Awalnya sih aku ngajak temenku sewaktu SMK untuk buat blog, ya buat melatih kemampuan menulis kita, tapi nyatanya kita sama-sama omong doang,heheh. Akhirnya memasuki semester 4 ini, banyak penugasan yang mengharuskanku rajin menulis di blog. Iya aku tahu ini paksaan, tapi nyatanya memang manusia kalau nggak dipaksa nggak bakal terbiasa.
Eh karena ini segmen perkenalan, aku juga bakal bilang kalau aku ini sebenernya suka nari tradisional, nggak jelek-jelek amat kok kalau suruh nari,hehehe. Aku udah suka nari semenjak SD, iya awalnya terpaksa juga, karena ada ekstrakulikuler tari dan wajib diikuti oleh semua siswa, jadi mau nggak mau pasti ikut kan, eh akhirnya jadi suka. Semua itu terus berlanjut hingga aku SMK, sampai pernah punya keinginan bisa jadi juara diajang FLS2N dan bisa bikin sanggar tari. Iya aku orangnya suka banget bikin keinginan, tapi giliran suruh usaha banyak banget setannya,hihi. Eh enggak, aku pejuang tangguh kok, nyatanya aku berani di Magelang tanpa nggandeng temen dari sekolah lama J.
Sebentar, ini aku kenalan tapi kaya nulis esai ya?hehehe, kan sesuai judulnya, biar kamu paham siapa itu Dessy (ih minta dipahami). Oh iya, kedepannya blog ini bakal aku isi dengan tulisan-tulisan menyangkut Ilmu Komunikasi, jadi buat kamu yang tertarik masuk Ilmu Komunikasi, bisa dong mampir kesini J. The last but not least jangan takut untuk menjadi dirimu sendiri, you’re original can’t be replace J
#JurnalismeOnline

                                                                                                                        Best Regard

                                                                                                                        Dessy N