Minggu, 26 Mei 2019

Jurnalis: I'm not Robot


Gambar terkait
https://images.app.goo.gl/9hMddR65rs5D7p2A7 

Saat ini, kecepatan mengunggah berita dijadikan sebagai ajang kompetisi bagi para media untuk menarik audiens, sebagai sarana untuk memenangkannya, para pemilik media menjadikan jurnalis sebagai tumbalnya. Penerapan prinsip "lebih banyak-lebih sedikit" yaitu dengan memperbanyak konten yang diproduksi oleh sedikit jurnalis, lebih banyak dan beragam tugas yang harus diselesaikan dalam waktu singkat serta banyaknya fleksibilitas untuk mengurangi pengeluaran. menyebabkan jurnalis mengalami kelelahan emosional, sinisme dan berkurangnya prestasi individu di tempat kerja.
Para jurnalis dipaksa untuk memiliki kemampuan diberbagai bidang, agar bisa menguntungkan pemilik media (tidak membayar banyak pekerja, jika sedikit pekerja bisa melakukan banyak pekerjaan). Akibatnya, setiap jurnalis akan memiliki tanggungan mempublikasikan berita dalam jumlah besar dalam satu hari, padahal belum tentu dalam satu hari tersebut terdapat informasi yang bisa dijadikan sebagai berita, namun karena adanya tuntutan pekerjaan, mau tidak mau jurnalis harus mempublikasikan artikel sebanyak ketentuan yang berlaku.
Akhirnya, karena terjadi ketidakseimbangan kerja, kurangnya umpan balik dari atasan, minimnya variasi pekerjaan, ketidakpuasan terhadap gaji, beban kerja yang tinggi, ketidakamanan kerja dan kurangnya prospek promosi. Banyak jurnalis yang tidak optimal dalam bekerja dan berdampak pada kualitas berita yang dihasilkan.
Kapitalisme baru, teknologi dan jurnalisme
            Zygmunt Bouman mengenalkan “modernitas cair” yang menyatakan bahwa evolusi karya media menjadi cair, hilangnya batasan antara kerja dan waktu luang, profesional dengan kehidupan pribadi, karyawan dan manajemen, produser dan audiens. Posisi profesional menjadi jauh lebih tidak pasti karena karir di media semakin dikarakterisasi dalam hal pekerjaan biasa dan kontingen, permintaan tinggi untuk fleksibilitas dan konvergensi tugas.
            Elemen sentral dalam kapitalisme baru adalah individualisasi tenaga kerja, yang menjadikan tututan dan tanggung jawab yang semula merupakan tanggungan majikan telah bergeser menjadi tanggungan karyawan, begitu juga dengan kontrol manajerial atas tenaga kerja yang mulai tumbuh hingga hilangnya solidaritas sosial antar pekerja. Ditambah dengan adanya teknologi digital baru yang dianggap sebagai pendorong utama dibalik ekonomi dan organisasi transisi di tempat keja. 
           Transformasi pekerjaan berita di industri media telah terpukul keras oleh resesi ekonomi global yang didukung dengan hasil dari perubahan organisasi struktural di media dan didorong oleh logika pasar yang bertujuan mengurangi biaya dengan meningkatkan produktivitas dan memaksimalkan laba, yang berdampak pada bertambahnya angka kehilangan pekerjaan, terutama di kalangan jurnalis. Hal tersebut akhirnya memunculkan empat tren jenis pekerjaan baru di bidang jurnalistik, (1) pertumbuhan lapangan kerja yang tidak biasa dan tidak standar dalam profesi jurnalistik (2) terdapat peningkatan permintaan fleksibilitas temporal lebih dari tenaga kerja (3) meningkatnya beban kerja jurnalis yang membutuhkan fleksibilitas temporal lebih dari tenaga kerja (4) meningkatnya pekerjaan di meja dan semakin berkurangnya pekerjaan di lapangan.
Pekerjaan yang tidak lazim dan kontingen
            Laporan International Federation of Journalist (IFJ) yang didukung oleh International Labour Office (ILO) menyebutkan terdapat 38 negara yang menekankan pertumbuhan hubungan kerja yang tidak biasa dalam industri media. Beberapa pekerjaan yang muncul bersifat tidak permanen dan atau penuh waktu, pekerjaan lepas, kontrak sementara dan pekerjaan paruh waktu.
Freelance
            Freelance atau bisa disebut pekerjaan lepas, telah umum dikenal dalam profesi jurnalistik selama beberapa decade terakhir. Meskipun pekerjaan tersebut membawa manfaat untuk pengusaha dan karyawan, tetap ada kekhawatiran terhadap pertumbuhan freelance terkait ketidakamanan pekerjaan, kurangnya prospek promosi dan rendahnya upah yang diterima, terlebih dengan adanya jurnalisme online, mereka memiliki pesaing diberbagai daerah yang biasa dikenal dengan citizen journalism atau jurnalisme warga.
Kontrak sementara dan pekerjaan paruh waktu
            Terdapat persepsi umum terhadap profesi dalam industri media, yaitu dimulai dengan magang yang tidak dibayar, penugasan yang dibayar rendah dan kontrak jangka pendek. Hal tersebut menjadikan kontrak permanen dan penuh waktu menjadi sesuatu yang langka dalam dunia jurnalistik. Dueze dan Fortunati mengatakan bahwa beberapa wartawan masih dipekerjakan secara permanen, tetapi sebagian besar yang lain hanya bekerja pada periode waktu tertentu untuk mengerjakan suatu aspek pada sebuah proyek. Namun belum ada statistik yang bisa memperkuat pendapat tersebut.
Fleksibilitas fungsional dan Multitasking
            Menurut Deuze, pekerjaan berita kontemporer semakin ditandai dengan adanya fleksibilitas fungsional tingkat tinggi yang membutuhkan profesionalisme diberbagai bidang.
Jurnalisme multimedia
            Berkaitan dengan konvergensi media, jurnalis dituntut untuk memiliki keterampilan di bidang teknologi, mengingat media cetak sudah tidak begitu banyak diminati, dan banyaknya audiens yang memilih untuk mengonsumsi media online, maka jurnalis harus memiliki kecepatan beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar tidak tergantikan oleh mereka yang lebih kompeten.
Pelebaran Pekerjaan
            Beralihnya media cetak menjadi media online memunculkan beberapa pekerjaan baru bagi jurnalis, diantaranya yaitu (1) manajemen konten, bertugas untuk membuat konten dan bertanggung jawab terhadap publikasi konten (2) manajer komunitas, bertugas mengawasi, mengoordinasikan dan merangsang partispasi pengguna terhadap konten yang diunggah (3) moderator komentar, bertugas memantau dan memfilter reaksi pengguna di situs web (4) moderator obrolan, bertugas mengatur obrolan langsung dengan pengguna di situs web.
Beban kerja meningkat
            Tuntutan untuk bisa melakukan multitasking dan adanya pelebaran pekerjan, menyebabkan beban kerja jurnalis semakin meningkat. Pernyataan bahwa teknologi akan meringankan pekerjaan nyatanya tidak sepenuhnya benar, karena dari pihak manajemen melakukan pengurangan tenaga kerja untuk memaksimalkan produktivitas dengan tenaga kerja yang minimal.
Kekurangan waktu
            Selain harus bisa multitasking jurnalis juga dituntut untuk  menghasilkan banyak berita dalam satu hari, yang menyebabkan jurnalis kekurangan waktu untuk mengambil tugas dan peran baru di luar kantor.
Rasa kedekatan
            Hubungan jurnalis dengan waktu tidak hanya berubah karena meningkatnya beban kerja, melainkan juga karena “wacana kecepatan”, di mana kecepatan diangggap sebagai ukuran utama keberhasilan kompetitif dalam industri berita. Jurnalis diharuskan untuk selalu memperbarui konten dan berpacu dengan waktu untuk menarik audiens. Adanya teknologi dianggap sebagai katalis untuk menghasilkan berita, padahal belum tentu dalam satu hari terdapat informasi yang dapat dijadikan sebagai berita, akhirnya kebanyakan informasi yang diunggah tidak memiliki nilai berita dan sebenarnya tidak begitu penting diketahui khalayak.
Pekerjaan meja meningkat
            Beralihnya media cetak ke media online menunjukkan bagaimana komputerisasi tenaga kerja jurnalis yang menjadikan lebih banyak pekerjaan meja. Baisnee dan Marchetti mengatakan bahwa organisasi kerja dan ketergesaan produksi seringkali menyebabkan pemrosesan berita atau gambar yang sebagian diproduksi oleh orang lain tanpa beranjak dari meja kerja bahkan pada beberapa kasus, jurnalis tidak pernah pergi ke TKP (Tempat Kejadian Peristiwa). Semakin banyaknya jurnalis yang bekerja di depan komputer, menyebabkan pentingnya teknologi digital untuk penelitian dan pengumpulan data meningkat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar