https://images.app.goo.gl/pYXDUGj9mT6jFB6z8
Revolusi industri
sudah dimulai sejak akhir abad ke-18, yang ditandai dengan munculnya mesin uap.
Setelah berkembangnya mesin uap, revolusi industri terus bergerak maju dan
semakin membutuhkan waktu singkat untuk menuju fase selanjutnya. Jika melihat
dari perubahan yanh terjadi saat ini, kita berada dalam fase revolusi industri
4.0, yaitu revolusi industri digital yang menjembatani manusia dengan dunia cyber.
Salah satu ciri penting revolusi industri 4.0 adalah personalisasi atau penyesuaian
spesifikasi produk barang dan jasa sesuai kebutuhan konsumen secara individu.
Hal tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan algoritma digital, yang
bekerja dengan cara melakukan interaksi terhadap
representasi seseorang di dunia digital, sehingga ketika seseorang membuka
portal berita mengenai hasil penghitungan suara KPU, maka algoritma akan
memberikan rekomendasi berita-berita yang berhubungan dan mungkin dibutuhkan
pembaca, dengan begitu orang tersebut tidak perlu mengetik ulang untuk mencari
berita terkait.
Dalam industri
komunikasi, perubahan tersebut dapat dilihat dengan adanya peleburan batas
antar berbagai jenis media masaa konvensional seperti koran, majalah, radio dan
televisi dalam satu ruang yang difasilitasi teknologi internet, fenomena
tersebut dikenal dengan istilah konvergensi media. Salah satu contohnya yaitu
munculnya berbagai media online sebagai alternatif menurunnya oplah media cetak
sebagai akibat dari konvergensi media. Maraknya media online ini juga
disebabkan karena kelebihan-kelebihan yang dirasakan masyarakat yang tidak bisa
mereka dapatkan ketika membaca media cetak, slah satunya yaitu kecepatan
penyebaran informasi dan keragaman konten. Kedua kelebihan tersebut membuat
jurnalis harus bisa mencari dan menyebarkan berita secara cepat. Bermula dari
situlah, jurnalis robot diciptakan dengan tujuan membantu tugas jurnalis
manusia.
Jurnalisme robot
adalah salah satu jenis dari Computer Assisted Reporting (CAR) tingkat lanjut
yang menggunakan AI atau Artificial Intelligence (Amran, Irwansyah, 2018:169) atau
bisa dikatakan sebuah robot yang ditanami kecerdasan buatan untuk bisa
menghasilkan artikel berita. Jurnalis robot atau yang biasa disingkat dengan RJ
masih tergolong teknologi baru, karena baru digunakan pertama kali pada tahun
2014 oleh Associated Press (AP) dan di Indonesia sendiri baru digunakan oleh
media beritagar.id pada tahun 2018. Sehingga untuk saat ini RJ hanya bisa
membantu jurnalis manusia dalam menuliskan berita mengenai olahraga, gempa
bumi, bursa efek, dan laporan keuangan, karena unsur-unsur keempat berita
tersebut tetap dan tidak memerlukan klarifikasi dari berbagai pihak yang
didapat melalui wawancara (RJ belum bisa melakukan tugas wartawan untuk mencari
narasumber yang terpercaya).
Kalau begitu
apakah jurnalis robot bisa melakukan kesalahan? Tentu saja bisa, karena sistem
kerja RJ adalah dengan menghimpun berbagai informasi dari internet bisa saja
data yang terhimpun adalah data yang sudah tidak valid digunakan, salah satu
contohnya yaitu terjadi pada The Los Angeles Times dengan Quakebot yang mampu
memprediksi gempa bumi secara otomatis. Kesalahan prediksi terjadi pada bulan
Juni ketika terjadi gempa di Santa Barbara dengan kekuatan 6,8 Skala Richter. Koran
The Los Angeles Times memuat pemberitaan tersebut, dan gempa di Santa Barbara
memang benar terjadi, namun kejadian tersebut ternyata terjadi pada tahun 1925
silam, akhirnya pihak The Los Angeles Times mengoreksi pemberitaan tersebut.
Lalu bagaimana
dengan jurnalis manusia? Apakah mereka juga bisa tergantikan oleh adanya jurnalis
robot? Andrey Miroshnichenko yakin menjawab "Ya" didukung dengan
pernyataan Kurzweil yang mengatakan bahwa hal tersebut bisa terjadi ketika manusia
bisa mengembangkan super AI atau singularity (dilansir dari majalah tempo.co).
Namun menurut Noam Lemelshtrich Latar general AI, super AI atau singularity
masih jauh dari jangkauan kita (majalah tempo.co). Sehingga masih ada
kesempatan bagi jurnalis manusia untuk bisa bersaing dengan jurnalis robot,
salah satu tugas yang penting dilakukan jurnalis manusia di era kecerdasan
buatan menurut pemimpin Daniel Pearl International Journalism Institute di
Interdiciplinary Center Herzliya, Israel adalah harus sadar dan membuat pembaca
sadar akan bahaya AI, yang memungkinakan raksasa-raksasa internet lebih
berkuasa daripada pemerintah. Selain itu, perkembangan AI juga akan berpotensi
melanggar Zeroth Law, yaitu suatu keharusan robot untuk tidak melanggar
kemanusiaan, sebab robot tidak dapat diprogram secara efektif untuk melindungi
Hak Asasi Manusia dan kebebasan berbicara yang sangat di perlukan bagi
ketahanan sosial.
Menurut saya,
jurnalis robot tidak akan bisa menggantikan jurnalis manusia, merujuk pada sembilan
elemen jurnalistik Bill Kovach, yang di
dalamnya memuat jurnalis harus mendengarkan hati nurani, sedangkan robot tidak
memiliki hati nurani, dan saya rasa tidak ada teknologi yang bisa menyamai hati
nurani manusia, yang artinya artikel yang dibuat jurnalis robot tidak akan bisa
memuat sembilan elemen jurnalistik tersebut. Oleh karena itu, adanya RJ hanya
untuk membantu jurnalis untuk melakukan tugas yang tidak memerlukan keahlian
khusus sedangkan jurnalis akan melakukan tugas yang lebih mendalam yang tidak
bisa dilakukan oleh robot, seperti melakukan investigasi, melakukan wawancara,
memberikan opini terhadap suatu peristiwa dll.
Referensi:
Amran, Sri Oktika, Irwansyah. 2018. Jurnalisme Robot dalam Media Daring Beritagar.id. Jurnal IPTEK-KOM. Vol 20 hlm 169-182.
Ariestyani, Kencana. 2019. Meninjau Automatic Journalism: Tantangan dan Peluang di Industri Media di Indonesia. Jurnal Konvergensi. Vol 1. hlm 51- 65.
nice
BalasHapus