Minggu, 19 Mei 2019

Jurnalis Robot sebagai Dampak Revolusi Industri di Bidang Komunikasi


Hasil gambar untuk jurnalis robot
https://images.app.goo.gl/pYXDUGj9mT6jFB6z8 

Revolusi industri sudah dimulai sejak akhir abad ke-18, yang ditandai dengan munculnya mesin uap. Setelah berkembangnya mesin uap, revolusi industri terus bergerak maju dan semakin membutuhkan waktu singkat untuk menuju fase selanjutnya. Jika melihat dari perubahan yanh terjadi saat ini, kita berada dalam fase revolusi industri 4.0, yaitu revolusi industri digital yang menjembatani manusia dengan dunia cyber. Salah satu ciri penting revolusi industri 4.0 adalah personalisasi atau penyesuaian spesifikasi produk barang dan jasa sesuai kebutuhan konsumen secara individu. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan algoritma digital, yang bekerja dengan cara melakukan interaksi terhadap representasi seseorang di dunia digital, sehingga ketika seseorang membuka portal berita mengenai hasil penghitungan suara KPU, maka algoritma akan memberikan rekomendasi berita-berita yang berhubungan dan mungkin dibutuhkan pembaca, dengan begitu orang tersebut tidak perlu mengetik ulang untuk mencari berita terkait.
Dalam industri komunikasi, perubahan tersebut dapat dilihat dengan adanya peleburan batas antar berbagai jenis media masaa konvensional seperti koran, majalah, radio dan televisi dalam satu ruang yang difasilitasi teknologi internet, fenomena tersebut dikenal dengan istilah konvergensi media. Salah satu contohnya yaitu munculnya berbagai media online sebagai alternatif menurunnya oplah media cetak sebagai akibat dari konvergensi media. Maraknya media online ini juga disebabkan karena kelebihan-kelebihan yang dirasakan masyarakat yang tidak bisa mereka dapatkan ketika membaca media cetak, slah satunya yaitu kecepatan penyebaran informasi dan keragaman konten. Kedua kelebihan tersebut membuat jurnalis harus bisa mencari dan menyebarkan berita secara cepat. Bermula dari situlah, jurnalis robot diciptakan dengan tujuan membantu tugas jurnalis manusia.
Jurnalisme robot adalah salah satu jenis dari Computer Assisted Reporting (CAR) tingkat lanjut yang menggunakan AI atau Artificial Intelligence (Amran, Irwansyah, 2018:169) atau bisa dikatakan sebuah robot yang ditanami kecerdasan buatan untuk bisa menghasilkan artikel berita. Jurnalis robot atau yang biasa disingkat dengan RJ masih tergolong teknologi baru, karena baru digunakan pertama kali pada tahun 2014 oleh Associated Press (AP) dan di Indonesia sendiri baru digunakan oleh media beritagar.id pada tahun 2018. Sehingga untuk saat ini RJ hanya bisa membantu jurnalis manusia dalam menuliskan berita mengenai olahraga, gempa bumi, bursa efek, dan laporan keuangan, karena unsur-unsur keempat berita tersebut tetap dan tidak memerlukan klarifikasi dari berbagai pihak yang didapat melalui wawancara (RJ belum bisa melakukan tugas wartawan untuk mencari narasumber yang terpercaya).
Kalau begitu apakah jurnalis robot bisa melakukan kesalahan? Tentu saja bisa, karena sistem kerja RJ adalah dengan menghimpun berbagai informasi dari internet bisa saja data yang terhimpun adalah data yang sudah tidak valid digunakan, salah satu contohnya yaitu terjadi pada The Los Angeles Times dengan Quakebot yang mampu memprediksi gempa bumi secara otomatis. Kesalahan prediksi terjadi pada bulan Juni ketika terjadi gempa di Santa Barbara dengan kekuatan 6,8 Skala Richter. Koran The Los Angeles Times memuat pemberitaan tersebut, dan gempa di Santa Barbara memang benar terjadi, namun kejadian tersebut ternyata terjadi pada tahun 1925 silam, akhirnya pihak The Los Angeles Times mengoreksi pemberitaan tersebut.
Lalu bagaimana dengan jurnalis manusia? Apakah mereka juga bisa tergantikan oleh adanya jurnalis robot? Andrey Miroshnichenko yakin menjawab "Ya" didukung dengan pernyataan Kurzweil yang mengatakan bahwa hal tersebut bisa terjadi ketika manusia bisa mengembangkan super AI atau singularity (dilansir dari majalah tempo.co). Namun menurut Noam Lemelshtrich Latar general AI, super AI atau singularity masih jauh dari jangkauan kita (majalah tempo.co). Sehingga masih ada kesempatan bagi jurnalis manusia untuk bisa bersaing dengan jurnalis robot, salah satu tugas yang penting dilakukan jurnalis manusia di era kecerdasan buatan menurut pemimpin Daniel Pearl International Journalism Institute di Interdiciplinary Center Herzliya, Israel adalah harus sadar dan membuat pembaca sadar akan bahaya AI, yang memungkinakan raksasa-raksasa internet lebih berkuasa daripada pemerintah. Selain itu, perkembangan AI juga akan berpotensi melanggar Zeroth Law, yaitu suatu keharusan robot untuk tidak melanggar kemanusiaan, sebab robot tidak dapat diprogram secara efektif untuk melindungi Hak Asasi Manusia dan kebebasan berbicara yang sangat di perlukan bagi ketahanan sosial.
Menurut saya, jurnalis robot tidak akan bisa menggantikan jurnalis manusia, merujuk pada sembilan elemen jurnalistik  Bill Kovach, yang di dalamnya memuat jurnalis harus mendengarkan hati nurani, sedangkan robot tidak memiliki hati nurani, dan saya rasa tidak ada teknologi yang bisa menyamai hati nurani manusia, yang artinya artikel yang dibuat jurnalis robot tidak akan bisa memuat sembilan elemen jurnalistik tersebut. Oleh karena itu, adanya RJ hanya untuk membantu jurnalis untuk melakukan tugas yang tidak memerlukan keahlian khusus sedangkan jurnalis akan melakukan tugas yang lebih mendalam yang tidak bisa dilakukan oleh robot, seperti melakukan investigasi, melakukan wawancara, memberikan opini terhadap suatu peristiwa dll.


Referensi:
Amran, Sri Oktika, Irwansyah. 2018. Jurnalisme Robot dalam Media Daring Beritagar.id. Jurnal IPTEK-KOM. Vol 20 hlm 169-182.
Ariestyani, Kencana. 2019. Meninjau Automatic Journalism: Tantangan dan Peluang di Industri Media di Indonesia. Jurnal Konvergensi. Vol 1. hlm 51- 65.





1 komentar: